Minggu, 12 Januari 2014

memperbaiki konsep diri

Memperbaiki Konsep Diri



 
Pengertian & Alasan
Kalau melihat berbagai literatur Psikologi, Konsep-diri ini  merupakan pembahasan penting. Konsep-diri adalah apa yang kita persepsikan terhadap diri kita; bagaimana kita mempersepsikan diri sendiri. Semua orang pada dasarnya punya konsep-diri. Yang berbeda adalah "bagaimana-nya" persepsi itu kita ciptakan, pikirkan, dan rasakan. Kita lihat sehari-hari. Ada orang yang mempersepsikan dirinya sebagai sosok yang memiliki kelebihan tertentu. Persepsi ini kemudian mendorongnya untuk meraih prestasi tertentu. Logikanya, kalau kita sudah punya dorongan, maka ini memudahkan kita meraih prestasi yang kita inginkan. Soal kualitasnya bagaimana,  ini soal proses.
Ada juga orang yang mempersepsikan dirinya sebagai sosok yang tidak punya kelebihan apa-apa. Secara by nature, persepsi demikian kurang memberikan dorongan. Konsekuensinya, kalau dorongan itu lemah, ya kemungkinannya juga kecil. Seperti kata Kidd (1998), "feeling of success spur action". Intinya, ada Konsep-diri positif dan ada Konsep-diri negatif. Konsep-diri ini biasanya amat sangat jarang kita nyatakan melalui ucapan mulut (verbal). Bahkan banyak yang tidak kita sadari. Umumnya, konsep-diri itu kita "batin" dan langsung kita praktekkan. Karena itu ada yang mengatakan nasib orang itu tercetak tanpa pengumuman (diam-diam). Sejauhmanakah konsep-diri ini punya pengaruh bagi kemajuan seseorang? Ada beberapa hal yang bisa kita catat di sini:
Pertama, konsep-diri berhubungan dengan kualitas hubungan intrapersonal (diri sendiri). Konsep-diri positif akan memproduksi kualitas hubungan yang positif. Ini misalnya harmonis dengan diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahan secara lebih akurat, atau punya penilaian positif terhadap diri sendiri. Hubungan yang harmonis akan menciptakan kebahagiaan-diri (perasaan positif terhadap diri sendiri).
Menurut Michael Angier, perasaan positif mendorong kita untuk melakukan  hal-hal positif. Jim Rohn menyimpulkan bahwa seringkali kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik karena kita menyimpan perasaan yang tidak baik. Kalau kita sedang merasa "nggak karu-karuan", biasanya pekerjaan kita berantakan juga.Karena itu, Einstein menyimpulkan bahwa karya besar itu tidak lahir dari seorang yang jiwanya sedang kacau.
Kedua, konsep diri terkait dengan kualitas hubungan dengan orang lain. Orang yang hubunganya harmonis dengan dirinya akan menghasilkan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Inilah yang menjadi pokok bahasan Kecerdasan Emosional (EQ). Sebaliknya, orang yang di dalam dirinya ada perang, akan mudah memproduksi peperangan juga di luar.  
Karena itu, berbagai study di bidang kesehatan mental mengungkap bahwa orang yang sedang mengalami stres atau depresi kurang bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Biasanya, hubungan mereka diwarnai dengan semangat permusuhan, perdebatan, konflik atau minimalnya gampang patah. Selain terkait dengan soal kualitas keharmonisan, Konsep-diri juga terkait dengan soal setting mental atau isi pikiran saat berhubungan dengan orang lain. Dale Carnegie menyebutnya dengan istilah filsafat hidup. Ada orang yang punya filsafat hidup memberi, ingin berbagi, ingin bekerjasama, ingin meminta (diberi), ingin mengambil, dan lain-lain.
Konsep diri yang lemah akan mendorong kita untuk meminta (asking or begging). Ini misalnya saja: apa yang bisa diberikan kepada saya, apa yang bisa saya "manfaatkan", apa yang bisa saya ambil, dan lain-lain. Sebaliknya, konsep-diri yang kuat akan mendorong kita untuk berpikir, misalnya saja: Apa yang bisa saya berikan, apa yang bisa saya kerjasamakan, apa yang bisa saya sinergikan, apa yang bisa saya serviskan, apa yang bisa saya bantu, dan lain-lain.
Kalau bicara keharmonisan hubungan jangka panjang, konsep mental yang paling menjanjikan adalah konsep mental yang kuat: saling memberi, saling berbagi, saling bersinergi, dan semisalnya. Intinya ada unsur win-win-nya. Soal bentuknya kayak apa, ini urusan lain.
Ketiga, konsep diri terkait dengan kualitas seseorang dalam menghadapi  perubahan keadaan. Perubahan itu bisa dipahami sebagai tekanan (pressure) atau tantangan (challenge). Ini tergantung pada bagaimana kita punya persepsi diri. Tantangan adalah "panggilan" atau kesempatan untuk membuktikan kemampuan, kebolehan, atau kehebatan kita.
Konsep-diri yang bagus akan memproduksi kepercayaan yang bagus (pede). Orang yang pede akan cenderung melihat perubahan sebagai tantangan untuk dihadapi, tantangan untuk diselesaikan, tantangan untuk dilompati. Karena itu, seperti kata Mohammad Ali, petinju legendaris itu, yang membuat orang lari dari masalah itu adalah kepercayaan-diri yang rendah. 
Sumber Konsep-diri
Karena kita ini punya sebutan ganda (makhluk individual dan sosial), maka konsep diri yang kita miliki pun  bersumber dari dua arah, yaitu:
  • Sumber eksternal 
  • Sumber internal.
Sumber eksternal itu misalnya adalah keluarga, lingkungan, komunitas, atau sumber-sumber lainnya. Tak jarang kita temui ada satu keluarga yang seluruh SDM-nya bagus. Tapi tak jarang juga kita jumpai ada satu keluarga yang SDM-nya tidak / belum bagus. Ini terkait dengan pemahaman, nilai-nilai, budaya, dan berbagai "intangible element" yang melandasi terbentuknya konsep-diri tertentu di dalam keluarga.
Begitu juga dengan lembaga sekolah. Ada sekolah-sekolah tertentu yang sepertinya sudah "berpengalaman" mencetak alumni yang sebagian besarnya bagus. Tapi ada yang sama sekali tidak / belum jelas alumninya. Apa yang membedakan? Salah satu yang membedakan adalah konsep-diri kolektif yang berkembang di sekolah itu. Tentu juga terkait dengan faktor-faktor "eks" lainnya.
Sumber internal maksudnya adalah kita sendiri yang menciptakan. Terlepas apakah itu kita ciptakan secara sadar atau tidak. Ketika kita berkesimpulan tidak punya kelebihan apa-apa, tidak punya resource apa-apa, tidak punya bakat apa-apa, tidak punya arti apa-apa, sebetulnya itu bukan berarti kita tidak punya. Itu semua adalah penilaian kita, persepsi kita, atau opini kita tentang diri kita. Pendeknya, itulah konsep-diri yang kita pilih.
Perlu secara fair kita akui juga, ketika kita punya konsep-diri seperti di atas, ini memang tidak membuat kita mati. Tapi untuk kepentingan kemajuan, perkembangan, aktualisasi-diri, dan lain-lain, konsep-diri itu punya peranan yang signifikan. Dr. Maxwell Maltz menyimpulkan tindakan manusia itu erat kaitannya dengan bagaimana manusia itu mendefinisikan dirinya. Senada dengan itu, Gordan Dryden dan Dr. Jeannette  Vos menulis, "Dari sistem pendidikan yang terbukti berhasil di seluruh dunia, citra diri ternyata lebih penting dari materi pelajaran."
Ada satu hal lagi yang mungkin perlu kita ingat di sini. Dari praktek hidup bisa kita ketahui bahwa konsep-diri itu ada yang sifatnya permanen (substansial). Artinya sudah masuk dalam file Alam Bawah Sadar, sudah menjadi gaya hidup, sudah benar-benar melekat dengan diri kita. Ini misalnya: kita secara otomatik punya konsep-diri yang lemah atau negatif dan itu berlangsung dalam periode yang cukup lama.
Tetapi ada juga yang sifatnya kondisional atau superfisial berdasarkan keadaan spesifik atau kepentingan spesifik. Ini misalnya kita mendesain format mental semenarik mungkin saat mau bertemu calon mertua, saat diwawancarai kerja, dan lain-lain. Seorang pejabat publik bisa saja mendesain format mental dan penampilan se-menarik mungkin, se-positif mungkin atau se-elegan mungkin saat berbicara di depan publik atau saat kampanye. Untuk kepentingan perkembangan jangka panjang, yang benar-benar perlu kita audit adalah konsep-diri permanent yang sudah masuk ke file Alam Bawah Sadar. Ini perlu "kerja keras" untuk memperbaikinya. Kenapa dan bagaimana?
Membangun Konsep Diri
Sebelum menjawab "bagaimananya", saya ingin lebih dulu menandaskan "kenapanya" dulu. Ini terkait dengan sumber eksternal dan internal di atas. Maksudnya saya, meski sumber konsep-diri itu bisa berasal dari luar dan dari dalam, tapi untuk memperbaikinya, ini harus berawal dari kita atau dari dalam. Seluruh perbaikan diri itu berawal dari dalam. Kaidah ini berlaku untuk semua orang dewasa (baca: bukan anak-anak).
Anak-anak yang punya konsep-diri negatif masih bisa dibenarkan jika orangtua atau lingkungan yang "pantas" disalahkan.  Tapi untuk orang dewasa, ini tidak berlaku. Meski kita bisa menyalahkan lingkungan, keluarga, sekolah, dan lain-lain, tetapi ujung-ujungnya yang menerima akibat adalah tetap diri kita. Ini bukti bahwa tanggung jawab untuk memperbaiki diri itu tidak bisa didelegasikan, dipasrahkan atau dilemparkan kepada pihak manapun.
Karena itu, tradisi kita memperkenalkan konsep kehidupan yang kita sebut aqil baligh. Aqil artinya akal kita sehat, tidak rusak karena usia atau kecelakaan. Baligh artinya usia kita bukan lagi anak-anak. Konsep ini digunakan untuk menandai perpindahan tanggung jawab. Seluruh aspek positif atau negatif yang dimiliki anak-anak, itu sebagian besarnya menjadi tanggung jawab orangtua, keluarga atau lingkungan. Begitu sudah menginjak aqil baligh ini, tanggung jawab itu secara otomatik pindah dari luar ke dalam.
Dengan kata lain, terlepas kita lahir dari keluarga, lingkungan atau sekolah yang bagus atau tidak, tetapi jika menolak memperbaiki konsep-diri negatif yang kita miliki, maka yang salah bukan keluarga, lingkungan atau sekolah. Yang salah adalah kita. Maksudnya, akibat atau konsekuensinya tetap kembali ke kita, bukan kembali ke keluarga, lingkungan atau sekolah. Inilah yang saya maksudkan kerja keras itu.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki konsep-diri yang sudah terlanjur negatif atau kurang mendukung kemajuan? Salah satu pilihan yang bisa kita jalankan adalah:
Pertama, menambah Pengetahuan (P1). Bertambahnya jenis dan bobot ilmu pengetahuan, bukan saja akan membuat kita memiliki pengetahuan itu, tetapi juga akan membuat kita memiliki opini-diri yang lebih baru dan lebih bagus. Soal caranya dan tehniknya bagaimana,  itu urusan kita masing-masing. Kita bisa menambah pengetahuan dengan berbagai cara: melanjutkan sekolah, melakukan self-learning, self-education, dan lain-lain.
Satu cara yang pasti dapat dilakukan oleh semua orang, terlepas apapun status ekonomi dan sosialnya, adalah membaca. Entah itu membaca buku baru atau buku bekas, entah itu membaca majalah baru atau majalah bekas, entah itu dalam bentuk artikel pendek atau hasil kajian yang panjang. Tapi membaca di sini bukan sekedar membaca. Semua kegiatan membaca itu bagus, namun yang paling bagus adalah memilih materi yang tepat untuk dibaca. Membaca riwayat hidup atau pemikiran tokoh bisa memperbaiki konsep-diri.
Kedua, menambah Pengalaman (P2). Pengalaman bukanlah serangkaian peristiwa yang menimpa kita, melainkan apa yang kita lakukan atas peristiwa itu. Menambah pengalaman akan membuat kita tahu apa yang bisa kita lakukan sekarang dan apa yang belum bisa kita lakukan.  Cara yang bisa kita tempuh antara lain:
  1. Mempraktekkan ide-ide perbaikan sampai berhasil
  2. Mengatasi masalah dengan cara yang positif
  3. Meraih target positif,
  4. Mewujudkan standar prestasi yang kita buat,
  5. Berkreasi
  6. Dan lain-lain.
Pengalaman akan memperbaiki konsep-diri. Semakin banyak kemampuan yang kita ketahui, semakin bagus kita punya penilaian terhadap diri sendiri. Nah, untuk mengungkap berbagai kemampuan / kapasitas itu, tentu tidak bisa dilakukan dengan duduk.  Terkadang kita baru mengetahui kemampuan kita setelah mempraktekkan banyak hal. Praktek akan menunjukkan dua hal: a) ternyata saya mampu melakukan hal-hal yang dulunya saya anggap tidak mungkin, dan b) ternyata saya belum mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya saya anggap mudah. Jadi lebih akurat. 
Ketiga, menambah Pergaulan (P3). Pergaulan, dalam arti yang luas, akan memperbaiki konsep-diri. Tapi ini dengan syarat: asalkan kita membuka diri untuk mengambil pelajaran dari orang yang kita kenal. Orang lain memang tidak bisa menyulap kita menjadi siapapun dan apapun. Namun jangan lupa, orang lain mengilhami kita, orang lain meng-inspirasi kita, orang lain adalah contoh bagi kita, orang lain adalah pembimbing kita, orang lain adalah pelajaran buat kita.
Intinya, perbanyaklah mengenal orang (langsung atau tidak langsung) dan perbanyaklah mengambil pelajaran. Biasanya, kita akan tahu kejelekan / kebaikan diri sendiri  setelah melihat jeleknya orang lain atau kebaikannya. Biasanya, kita akan segera sadar konsep-diri yang kita pilih setelah berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, ada ungkapan pendek yang mungkin pas untuk diingat. "Cara yang paling bagus untuk menjadi bintang olahraga adalah belajar dari bintang olahraga."
Konsep-diri, entah itu positif atau negatif, memang tidak bisa menyulap prestasi kita menjadi bagus. Tetapi, untuk meraih prestasi yang lebih bagus, dibutuhkan konsep-diri yang semakin bagus. Semoga bermanfaat !!

Pemikiran Socrates, Plato & Aristoteles tentang Filosofi Hidup

Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang teristimewa dikarunai kemampuan berpikir yang sekaligus membedakannya dengan ciptaan lainnya. Menarik untuk menyimak dari sejarah mengenai bagaimana kemampuan berpikir manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengetahuan semakin bertambah dan apa yang dahulu dianggap mustahil untuk dilakukan, sekarang dapat dilakukan.
Ada beberapa tokoh yang dikenal sebagai pemikir di zamannya. Beberapa yang terkenal adalah tiga tokoh yang dikenal dengan sebutan “The Gang of Three” yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat (Western Mind). Socrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari “kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran ”kategoris” dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.
SOCRATES
Socrates adalah seorang filosof dengan coraknya sendiri. . Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir. kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu metodenya disebut maieutik. Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya-jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Kedua-duanya itu bersangkut-paut. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi.
PLATO
Plato adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik,yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”.Dia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.
Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau Negara. Menurut Plato negara terbentuk atas dasar kepentingan yang bersifat ekonomis atau saling membutuhkan antara warganya maka terjadilah suatu spesialisasi bidang pekerjaan, sebab tidak semua orang bisa mengerjakaan semua pekerjaan dalam satu waktu. Polis atau negara ini dimungkinkan adanya perkembangan wilayah karena adanya pertambahan penduduk dan kebutuhanpun bertambah sehingga memungkinkan adanya perang dalam perluasan ini.
Dalam menghadapi hal ini maka di setiap negara harus memiliki penjaga-penjaga yang harus dididik khusus.
Ada tiga golongan dalam negara yang baik, yaitu pertama, Golongan Penjaga yang tidak lain adalah para filusuf yang sudah mengetahui “yang baik” dan kepemimpinan dipercayakan pada mereka. Kedua, Pembantu atau Prajurit. Dan ketiga, Golongan pekerja atau petani yang menanggung kehidupan ekonomi bagi seluruh polis.Plato tidak begitu mementingkan adanya undang-undang dasar yang bersifat umum, sebab menurutnya keadaan itu terus berubah-ubah dan peraturan itu sulit disama-ratakan itu semua tergantung masyarakat yang ada di polis tersebut.Adapun negara yang diusulkan oleh Plato berbentuk demokrasi dengan monarkhi, karena jika hanya monarkhi maka akan terlalu banyak kelaliman, dan jika terlalu demokrasi maka akan terlalu banyak kebebasan, sehingga perlu diadakan penggabungan, dan negara ini berdasarkan pada pertanian bukan perdagangan. Hal ini dimaksudkan menghindari nasib yang terjadi di Athena.

Ciri-ciri Karya-karya Plato
  • Bersifat Sokratik
Dalam Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya
  • Berbentuk dialog
Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.
  • Adanya mite-mite
Plato menggunakan mite-mite untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi
Verhaak menggolongkan tulisan Plato ke dalam karya sastra bukan ke dalam karya ilmiah yang sistematis karena dua ciri yang terakhir, yakni dalam tulisannya terkandung mite-mite dan berbentuk dialog.
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi
Idea-idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita.. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.
Dunia Indrawi
Dunia indrawi adalah dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.
Dunia Idea
Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai “kebajikan” dan “kebenaran”.


Pandangan Plato tentang Karya Seni dan Keindahan
Pandangan Plato tentang Karya Seni
Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik). Plato memandang negatif karya seni. Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide. Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.
Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide.Ia berpendapat bahwa kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni.Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.
ARISTOTELES
Aristoteles adalah murid Plato.Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran dan ilmu alam.
Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisa kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Plato menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, sedangkan Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Selanjutnya ia menyatakan bahwa bentuk materi yang sempurna, murni atau bentuk akhir, adalah apa yang dinyatakannya sebagai theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.
Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi. Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti fisika, astronomi, biologi, psikologi, metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.
Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense explanation), banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun lamanya. Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut karena dianggap masuk akal dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut salah total karena didasarkan pada asumsi-asumsi yang keliru.
Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135–1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126–1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau “the master of those who know”, sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Perbandingan Pemikiran Plato dan Aristoteles Tentang Jiwa dan Raga.
Menurut Plato mausia memiliki tiga elemen dalam jiwa:
· Pertama adalah kemampuan menggunakan bahasa dan berfikir.
· Elemen raga tubuh dalam bentuk nafsu badaniah,hasrat dan kebutuhan.
· Elemen rohaniah/kehendak bisa dilihat dengan adanya emosiseperti kemarahan,sindiran,ambisi,kebanggaan dadn kehormatan.
Elemen paling tinggi menurut Plato adalah berikir(akal) dan terendah nafsu badaniah (Lavine.2003;73-74)
Jiwa menurut pandangan Plato,tidak dapat mati karena merupakan sesuatu yang adikodrati berasal dari dunia ide.Meski kelihatan bahwa jiwadan tubuh saling bersatu,tetapi jiwa dan tubuh adalah kenyataan yang harus dibedakan.Tubuh memenjarakan jiwa,oleh karenanya jiwa harus dilepaskan dari tubuh dengan dua macam cara yaitu pertama dengan kematian dan kedua dengan pengetahuan.Jiwa yang erlepas dari ikatan tubuh bisa menikmati kebahagiaan melihat ide karena selama ini ide teseut dikat oleh tubuh dengan keinginan atau nafsu badaniah sehingga menutup penglihatan tehadap ide (Hardiwijono, 2005:42)
Aristoteles meninggalkan ajaran dualise Plato tentang jiwa dan tubuh.Plato berpendapat bahwa jiwa itu bersifat kekal,tetapi Aristoteles tidak.
Menrut Aristoteles,jiwa dan tubuh ibarat bentuk dan materi.Jiwa adalah bentuk dan tubuh adalah materi.Jiwa merupakan asas hidup yang menjadikan tubuh memiliki kehidupan.Jiwa adalah penggrak tubuh,kehendak jiwa menentukan perbuatan dan tujuan yang akan dicapai (Hadiwijono, 2005:51).Secara spesifik jiwa adalah pengendali atas reproduksi,pergerakan dan persepsi.Aristoteles mengibaratkan jiwa dan tubuh bagaikan kampak.Jika kampak adalah benda hidup,maka tubuhya adalah kayu atau metal,sedangkan jiwanya adalah kemampuan untuk membelah dan segala kemampuan yang membuat tubuh tersebut disebut kampak.Sebuah kampak tidak bisa disebut kampak apabila tidak bisa memotong,melainkan hanya seonggok kau atau metal.
Disadari oleh Aristotel,bahwa tubuh bisa mati dan oleh sebab iu,maka jiwanya juga ikut mati.Seperti kampak tadi yang kehilangan kemampuannya,manusia juga demikian ketika mati,ia akan kehilangan kemampuan berfikir dan berkehendak. Thank u Verry Much..
.