Cinta ataukah Seks yang Paling Kita Butuhkan???
Manusia,
menurut wataknya, adalah makhluk sosial. Bersamaan dengan setiap
hubungan kasih sayang mendalam yang dialaminya, dia menemukan bahwa dia
bertambah dekat dengan dirinya. Dia juga menemukan bahwa orang lain
membantunya dalam mendapatkan kekuatan kepribadiannya.
Oleh
karena itulah, seorang manusia harus berjuang dengan segenap
kesadarannya untuk sampai kepada orang lain dan mendekatkan mereka
kepadanya, dan itulah salah satu sebab seseorang harus menikah dan
membangun rumah tangga.
Sesungguhnya
ketakutan terhadap kesendirian dan kekurangan cinta sangat besar pada
diri mayoritas kita. Bahkan kita siap untuk melepaskan apa saja termasuk
jiwa kita, untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dengan cara ini, kita
berharap berhasil mendapatkan teman sejati untuk kita.
Seorang
anak akan rela mengerjakan hal-hal yang tidak masuk akal demi cinta
kedua orang tuanya; dan seorang pemuda terkadang rela kehilangan
kepribadiannya agar dapat diterima sebagai anggota dalam sebuah
komunitas.
Para
ahli psikologi berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang paling mendasar
adalah kebutuhannya untuk mengalahkan kesendirian yang membuatnya
merasa asing dan terasingkan, dan menjadikannya berada dalam suatu
keadaan yang mana dia hanya dapat menanti serangan dari dunia yang tidak
pernah dilihatnya atau yang tidak pernah berhubungan dengannya.
Tidak
ada cara lain untuk berhubungan dengan alam dan orang lain, selain
cinta. Cinta adalah satu-satunya solusi agar manusia dapat keluar dari
penjara diri menuju luasnya alam dan orang lain. Tanpa cinta, kehidupan
akan berubah menjadi penjara kesendirian dan keterasingan yang
menyakitkan.
DR.
Lagas, dosen ilmu psikologi di Universitas Sorbone, berkata : “Kita
tidak memiliki cara untuk menafsirkan cinta dengan penafsiran yang benar
seandainya kita hanya mengembalikannya pada kebutuhan seksual.”
Realitanya,
cinta berserasi dengan peningkatan kejiwaan manusia, yang butuh
mencintai dan dicintai oleh manusia lain. Maksudnya, dia senantiasa
membutuhkan manusia lain dan setiap yang dilakukan oleh gejolak hasrat
seksual membantu terciptanya suasana jiwa yang cocok bagi lahirnya
cinta.
Nah,
pentingnya cinta bukan hanya untuk melahirkan keturunan atau pemuasan
fisik, tetapi untuk terbebas dari kesendirian jiwa. Kita selalu berusaha
agar terus merasa bahwa kita adalah bagian dari sebuah masyarakat. Di
setiap fase dari fase kehidupan, kita bergerak ke arah orang lain: ke
orang tua ketika kita masih kanak-kanak, ke orang dewasa ketika kita
menginjak usia remaja, ke perkawinan, ke komunitas yang cocok dengan
kita ketika kita dewasa dan matang, dan ke komunitas para jompo ketika
kita sudah tua. Kita terus seperti itu hingga tiba ajal kita.
Kita
membutuhkan orang lain agar kita dapat mencintai dan agar mereka
mencintai kita. Tidak ada yang meragukan bahwa tanpa itu kita akan
menjadi seperti bayi yang dibiarkan sendirian. Kita akan berhenti
tumbuh; kita akan berhenti berkembang; dan kita akan memilih gila atau
bahkan akan memilih mati.
Seorang
bayi tidak tahu atau tidak mengerti dinamika cinta, tetapi dia memiliki
kebutuhan kuat terhadap cinta, hingga jika cinta itu kurang, maka
mungkin akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangannya,
bahkan terkadang mengakibatkan kematiannya.
Kebutuhan
ini akan bertambah besar bersamaan dengan bertambahnya usia. Pada
beberapa kondisi, kebutuhan itu akan berubah menjadi kebutuhan kepada
teman, cinta dan pembangkit utama semangat hidup. Sudah dimaklumi bahwa
kurang mendapatkan cinta adalah sebab utama stres pada remaja.
Karena
itu, buah cinta pantas untuk diperjuangkan, sebab dengan cinta, akan
tercipta keselarasan dan kestabilan pada tubuh dan jiwa. Bukankah sehat
itu tidak lain adalah suatu keadaan di mana tubuh dan jiwa selaras dan
stabil? Jika sampai sekarang cinta tidak bisa menyembuhkan seseorang,
maka itu karena kita belum mempelajari bagaimana seharusnya kita
mencintai?
Seorang
pujangga India, Thaghur, berkata : “Sesungguhnya orang yang
menginginkan sesuatu dari perbuatan baik itu seperti sedang mengetuk
pintu, sementara orang yang mencintai itu seperti menemukan pintu sudah
terbuka.”
Benar,
sesungguhnya kita akan dapat hidup di alam ini ketika kita
mencintainya, lewat cinta yang efektif dan membantu orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar