Pahami Kebutuhan Seksual yang Diperlukan oleh Pasangan
Jakarta, Seks adalah bagian yang sangat penting dari
hubungan suami istri. Tetapi kebanyakan pasangan salah mengerti akan
kebutuhan seksual pasangannya. Sehingga Anda perlu mengetahui hal-hal
yang perlu Anda hindari untuk dapat memahami kebutuhan seksual pasangan.
Berikut 7 hal yang harus dihindari agar pasangan saling mengerti kebutuhan seksual masing-masing, seperti dilansir onlymyhealth, Selasa (3/7/2012) yaitu:
1. Ragu-ragu untuk mengungkapkan keinginan berhubungan seks
Menyampaikan
keinginan untuk berhubungan seks merupakan faktor terpenting agar Anda
tidak salah menafsirkan kebutuhan seksual Anda dengan pasangan. Dengan
kata yang lebih sederhana, Anda tidak dapat membaca pikiran
masing-masing tanpa mengungkapkannya.
Oleh karena itu, berbagi
pemikiran dan harapan tentang bagaimana pengalaman seksual bersama
pasangan dapat membuat hubungan Anda lebih dekat.
2. Menutupi kecemasan tentang aktivitas seks di hadapan pasangan
Kebanyakan
orang merasa tidak nyaman untuk membicarakan hal-hal seksual yang
membuatnya cemas, seperti rasa sakit ketika penetrasi, dan sebagainya.
Tetapi dengan memendam sendiri kecemasan yang Anda rasakan tidak akan
membuat pasangan Anda memahami kebutuhan seksual Anda, begitu pula
sebaliknya.
3. Terlalu santai ketika membicarakan kebutuhan seksual masing-masing
Jangan
menganggap remeh pembicaraan yang menyangkut hubungan seksual dan
membicarakannya dengan candaan. Luangkan waktu untuk membahas tentang
keinginan Anda dan pasangan.
4. Anda tidak mencari tahu cara bagaimana seks yang dapat dinikmati bersama
Aktivitas
seks yang terlalu monoton terkadang akan membuat pasangan merasa bosan.
Cari tahu variasi seks yang dapat Anda lakukan bersama pasangan.
5. Anda tidak menciptakan hubungan emosional yang kuat bersama pasangan
Hubungan
emosional juga memiliki peran penting untuk meningkatkan hubungan
seksual Anda bersama pasangan. Oleh karena itu, Anda perlu meningkatkan
hubungan emosional dengan meluangkan waktu bersenang-senang berdua.
6. Faktor-faktor fisik mempengaruhi kenikmatan seksual
Penyakit
dan perubahan fisik seperti naiknya berat badan, perawatan pasca
operasi dan perubahan hormon juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan
seksual. Faktor-faktor ini dapat merusak atau mengganggu kemampuan Anda
untuk menikmati aktivitas seksual.
7. Praduga bahwa pria lebih butuh seks sedangkan wanita tidak
Keyakinan
bahwa kaum pria lebih berorientasi pada seks sementara wanita lebih
terhadap komitmen untuk melayani, harus dihilangkan dari pikran Anda.
Wanita juga memerlukan seks, hanya saja tidak bnayak yang berani
mengungkapkannya terhadap pasangan. Atasi hal ini dengan membangun
komunikasi tentang seks yang baik bersama pasangan.
Kebutuhan Seksual Tak Mengenal Menopause
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
– Bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, kebutuhan biologis
merupakan suatu kebutuhan yang wajar terjadi. Apalagi bagi pasangan
suami istri.
Kebutuhan seksual bahkan tak berhenti ketika seorang perempuan sudah memasuki masa menopause. Setidaknya demikian disampaikan oleh Zoya Amirin, seorang psikolog.
"Semua orang berpikir kebutuhan seksual berhenti saat menopause, ketika orang sudah tua, pensiun, kebutuhan seks pensiun. Padahal sebenarnya kebutuhan seksual akan terus ada sampai seseorang mati," ujar Zoya.
Menurut alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, aktivitas seksual yang baik bisa membantu pemulihan dalam kesehatan seseorang, misalnya pada pasien stroke.
Zoya mengatakan, pada pasien stroke, ada kursus dan terapis yang membantu mereka mencari posisi seksualnya, sehingga pasien memiliki kehidupan seks yang baik, dan dengan demikian stroke-nya juga ikut membaik.
"Kadang orang stroke, apalagi laki-laki mulai galak karena mereka depresi, nggak bisa kerja, nggak bisa ngapa-ngapain. Di rumah nggak bisa bercinta, malah tambah depresi," cerita Zoya.
Ketika kehidupan seks pasien pelan-pelan membaik, istrinya juga diberikan pengertian harus sabar, dan terapi memberikan cara mengatur posisi bercinta, mengingat pada pasien stroke ada sebagian tubuh yang mati rasa, jadi tidak bisa semua tubuh digerakkan. "Seperti itu bisa dipelajari, malah meningkat kualitas hidup suami istri, dibandingkan yang nggak melakukannya."
Kalangan usia lanjut di panti wredha pun, kata Zoya, juga memiliki kebutuhan seksual. Menurut pengalaman Zoya, ia pernah menjumpai kakek-nenek di sebuah panti jompo yang jatuh cinta.
Ketika mereka berdua menikah, kehidupan mereka jadi lebih baik. Meskipun seks-nya agak sedikit tricky, harus pakai gel (karena lubrikasi di perempuan agak sedikit lama, tetapi laki-laki tetap bisa ereksi). Meski demikian, cinta membuat mereka berdua tetap bisa berhubungan seks. "Bahkan darah tinggi mereka dan penyakit lainnya lebih baik, lebih berkurang, karena kehidupan seks mereka meningkat," tandasnya.
Kebutuhan seksual bahkan tak berhenti ketika seorang perempuan sudah memasuki masa menopause. Setidaknya demikian disampaikan oleh Zoya Amirin, seorang psikolog.
"Semua orang berpikir kebutuhan seksual berhenti saat menopause, ketika orang sudah tua, pensiun, kebutuhan seks pensiun. Padahal sebenarnya kebutuhan seksual akan terus ada sampai seseorang mati," ujar Zoya.
Menurut alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, aktivitas seksual yang baik bisa membantu pemulihan dalam kesehatan seseorang, misalnya pada pasien stroke.
Zoya mengatakan, pada pasien stroke, ada kursus dan terapis yang membantu mereka mencari posisi seksualnya, sehingga pasien memiliki kehidupan seks yang baik, dan dengan demikian stroke-nya juga ikut membaik.
"Kadang orang stroke, apalagi laki-laki mulai galak karena mereka depresi, nggak bisa kerja, nggak bisa ngapa-ngapain. Di rumah nggak bisa bercinta, malah tambah depresi," cerita Zoya.
Ketika kehidupan seks pasien pelan-pelan membaik, istrinya juga diberikan pengertian harus sabar, dan terapi memberikan cara mengatur posisi bercinta, mengingat pada pasien stroke ada sebagian tubuh yang mati rasa, jadi tidak bisa semua tubuh digerakkan. "Seperti itu bisa dipelajari, malah meningkat kualitas hidup suami istri, dibandingkan yang nggak melakukannya."
Kalangan usia lanjut di panti wredha pun, kata Zoya, juga memiliki kebutuhan seksual. Menurut pengalaman Zoya, ia pernah menjumpai kakek-nenek di sebuah panti jompo yang jatuh cinta.
Ketika mereka berdua menikah, kehidupan mereka jadi lebih baik. Meskipun seks-nya agak sedikit tricky, harus pakai gel (karena lubrikasi di perempuan agak sedikit lama, tetapi laki-laki tetap bisa ereksi). Meski demikian, cinta membuat mereka berdua tetap bisa berhubungan seks. "Bahkan darah tinggi mereka dan penyakit lainnya lebih baik, lebih berkurang, karena kehidupan seks mereka meningkat," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar